Berbagai aktivitas keseharian juga berdampak pada lingkungan dan kepedulian kita pada dampak tersebut menunjukkan seberapa besar kepedulian kita terhadap lingkungan. untuk itu perlu terus dilakukan tindakan nyata dan semangat itu yang menjadi dasar bagi PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia (Tokio Marine Life) untuk memperkenalkan JejakBumi, sebuah platform kalkulator jejak karbon.
Kalkulator jejak karbon ini juga yang menghubungkan edukasi mengenai jejak karbon dengan aksi pemilahan sampah. Untuk menerjemahkan edukasi tersebut menjadi aksi nyata, JejakBumi juga terhubung dengan ekosistem 38 Bank Sampah dan Rumah Pilah di Jakarta melalui kolaborasi Tokio Marine Life bersama Dompet Dhuafa.
Melalui ekosistem ini, masyarakat tidak hanya diajak memahami jejak karbonnya tetapi juga diperkenalkan pada salah satu tindakan sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari, yaitu memilah dan menyalurkan sampah secara lebih bertanggung jawab. Inisiatif ini hadir di tengah semakin kuatnya perhatian terhadap persoalan sampah di Jakarta.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kota ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari. Sementara itu, TPST Bantargebang yang selama puluhan tahun menjadi salah satu tumpuan pengelolaan sampah Jakarta telah mendekati kapasitas maksimum dengan timbunan sampah rata-rata mencapai sekitar 60 meter.
Kondisi tersebut kian menegaskan pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumber. Upaya ini juga diperkuat melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta No. 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber yang ditetapkan pada 30 April 2026 lalu.
Instruksi tersebut mendorong pemilahan sampah berdasarkan jenis serta pengolahan lanjutan, termasuk penyaluran sampah anorganik kepada Bank Sampah atau pihak pengelola lainnya.
“Kami melihat bahwa edukasi mengenai lingkungan perlu diikuti dengan kesempatan bagi masyarakat untuk mengambil tindakan. Melalui JejakBumi, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya mengenali jejak karbonnya tetapi juga melihat apa yang dapat dilakukan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui pemilahan sampah,” ujar Alexander Mahendrawan, SVP Marketing & Corporate Planning Tokio Marine Life.
Platform JejakBumi mengambil pendekatan yang menghubungkan hasil perhitungan jejak karbon dengan aksi pemilahan sampah. Setelah mengetahui gambaran jejak karbon dari aktivitas sehari-hari, pengguna diarahkan untuk melihat langkah sederhana yang dapat dilakukan, salah satunya melalui Bank Sampah atau Rumah Pilah yang tersedia dalam rangkaian inisiatif tersebut.
Alurnya sangat sederhana: Kenali-Hitung-Ambil Tindakan-Pilah Sampah. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bahwa kontribusi terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesadaran mengenai jejak karbon tidak berhenti pada angka tetapi dapat menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Inisiatif ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 13: Climate Action, khususnya semangat untuk meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai perubahan iklim dan pentingnya mengambil tindakan terhadap dampak lingkungan.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini karena kepedulian terhadap lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat. Kami berharap JejakBumi dapat membantu masyarakat lebih memahami jejak karbonnya dan kemudian menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi tindakan nyata, salah satunya melalui pemilahan sampah,” imbuh Utammi Sri Lestari, Head of Partnership Dompet Dhuafa.
Keberadaan Bank Sampah dan Rumah Pilah menjadi bagian penting dari ekosistem ini karena menyediakan saluran bagi masyarakat untuk melanjutkan kebiasaan memilah sampah menjadi tindakan yang lebih terstruktur.
Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa hingga awal Agustus 2026, persentase pemilahan sampah di Jakarta telah mencapai 23,14 persen. Pemprov DKI Jakarta juga mencatat keberadaan 2.247 unit Bank Sampah dan 31 TPS 3R sebagai bagian dari infrastruktur pendukung pengelolaan sampah.
Melalui kolaborasi bersama Dompet Dhuafa, Tokio Marine Life melibatkan 38 Bank Sampah dan Rumah Pilah sebagai bagian dari ekosistem aksi JejakBumi. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendekatkan pesan mengenai keberlanjutan dengan aktivitas yang dapat dilakukan langsung oleh masyarakat di lingkungannya masing-masing.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, Tokio Marine Life juga memberikan bantuan operasional secara simbolis kepada Bank Sampah dan Rumah Pilah yang terlibat. Dukungan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus upaya mendukung para pengelola yang secara langsung menjalankan proses pemilahan dan pengelolaan sampah serta memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar.
“Melalui kolaborasi dengan 38 Bank Sampah dan Rumah Pilah, kami ingin mendekatkan JejakBumi dengan aksi yang benar-benar dapat dilakukan masyarakat. Bagi kami, platform digital menjadi titik awal untuk membangun awareness sementara Bank Sampah dan Rumah Pilah membantu menghadirkan jalur aksi yang nyata di tingkat komunitas. Karena menjaga bumi tidak hanya dimulai dari seberapa banyak yang kita ketahui tetapi dari apa yang kita pilih untuk lakukan,” pungkas Ferawati Gondokusumo, Head of Marketing Communications & Corporate Branding Department Tokio Marine Life.
Melalui JejakBumi, semangat tersebut diwujudkan dengan menggabungkan edukasi, partisipasi masyarakat, serta dukungan terhadap pihak-pihak yang menjalankan pengelolaan sampah secara langsung. Ke depan, Tokio Marine Life berharap platform JejakBumi dapat menjadi salah satu sarana untuk mendorong semakin banyak masyarakat mengenali dampak dari aktivitas sehari-hari dan mengambil bagian dalam menjaga lingkungan.


