Waste4Change kembali mempertemukan pelaku usaha, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, dan PROSPECT Institute dalam Executive Luncheon & Talkshow bertema “Pengelolaan Sampah Mandiri: Mengamankan Operasional Bisnis” di Richie Garden Sentul City pekan lalu.
Waste4Change (PT Wastforchange Alam Indonesia) merupakan perusahaan penyedia solusi pengelolaan sampah berkelanjutan yang didirikan sejak akhir tahun 2014. Fokus utama perusahaan ini untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA dan mendorong penerapan ekonomi sirkular.
Forum ini membahas bagaimana perusahaan dapat membangun pengelolaan sampah yang dapat ditelusuri, terdokumentasi, dan mendukung keberlangsungan operasional melalui pemaparan dan diskusi terbuka.
Ada banyak permasalahan yang dibahas dan tidak disadari sangat dekat dengan kebutuhan perusahaan seperti bagaimana menerapkan pengelolaan sampah mandiri, memilih mitra pengelola, serta menyiapkan bukti pengelolaan untuk pelaporan lingkungan. Waste4Change menghadirkan forum ini sebagai ruang untuk mempertemukan kebutuhan pelaku usaha dengan perspektif pemerintah dan pengalaman implementasi di lapangan.
Disoroti juga mengenai pentingnya memasukkan pengelolaan sampah ke dalam perencanaan bisnis karena ketergantungan pada pengangkutan menuju TPA perlu ditinjau bersama kesiapan perusahaan menghadapi perubahan kapasitas maupun akses pengelolaan.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor Teuku Mulia, estimasi timbulan sampah Kabupaten Bogor mencapai sekitar 3.000 ton per hari dan dengan kapasitas pengangkutan yang tersedia, penanganan yang dapat dilakukan berada pada kisaran 800–1.000 ton per hari.
“Situasi ini menjadi konteks penting bagi upaya memperluas pengelolaan sampah dari sumber, termasuk di kawasan industri, komersial, dan perumahan. Untuk itu perusahaan perlu mengetahui perjalanan sampah setelah diserahkan kepada pihak ketiga termasuk kapasitas mitra, fasilitas tujuan, pemanfaatan material, hingga penanganan residu,” ujarnya.
Pengelolaan sampah mandiri dengan tetap mengunakan jasa mitra menjadi penting untuk memastikan pemilahan dari sumber, upaya pengelolaan organik di kawasan, serta penyalurann material anorganik kepada pihak yang dapat memanfaatkannya kembali. Kerja sama dengan pihak lain tetap harus dipahami proses yang berlangsung dan memastikan bahwa alur pengelolaannya dapat ditelusuri.
Senior Account Executive, Responsible Waste Management Waste4Change Retty Anggun Sari menambahkan, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab membutuhkan kejelasan proses sejak sampah dihasilkan, dipilah, diangkut, hingga masuk ke fasilitas pengolahan dan mendapatkan penanganan lanjutan.
Menurutnya, gangguan pada jalur pembuangan dapat berdampak terhadap operasional perusahaan sehingga kebutuhan mencari alternatif secara mendadak berpotensi menambah biaya dan memengaruhi kelancaran penanganan sampah harian. Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan kesiapan sistem pengelolaan sebagai bagian dari perencanaan operasional jangka panjang.
“Di Waste4Change, kami melakukan pengelolaan lanjutan di fasilitasnya serta mencatat timbulan dan komposisi sampah yang ditangani. Makanya pencatatan perlu mengikuti hasil aktual karena jumlah dan karakter sampah dapat berubah dari waktu ke waktu,” bebernya.
Data pengelolaan tersebut dapat menjadi bahan pendukung pelaporan lingkungan, kebutuhan audit, serta pelaporan terkait PROPER dan ESG. Perusahaan juga dapat melakukan kunjungan ke fasilitas untuk melihat proses pengelolaan secara langsung. Dengan demikian, informasi yang diterima perusahaan dapat dihubungkan dengan praktik di lapangan.
Rosyid Nukha, Direktur Eksekutif PROSPECT Institute, menekankan pentingnya kesesuaian antara data yang dilaporkan dan kondisi aktual. Berdasarkan pengalaman pendampingannya, bukti pengelolaan perlu mencakup data kuantitatif, dokumentasi, penjelasan kegiatan, dan bukti penanganan material yang relevan.
“Pembahasan ini menunjukkan bahwa praktik pengelolaan yang sudah berjalan perlu disertai pencatatan yang memadai. Dokumentasi membantu perusahaan menjelaskan proses, mengevaluasi hasil, dan mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki,” katanya.
Pada akhirnya, Waste4Change kembali mendorong pelaku usaha untuk meninjau pengelolaan sampah secara menyeluruh. Kejelasan proses dan kualitas data menjadi landasan bagi perusahaan untuk menentukan perbaikan yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya, sekaligus berkontribusi pada pengelolaan sampah daerah yang lebih bertanggung jawab.


