Penerbitan global bond pertama (obligasi global) oleh Danantara senilai 1,5 miliar dolar Amerika meraih capaian yang positif. Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani, jumlah obligasi global yang diterbitkan oleh Danantara dinilai telah berhasil melebihi target yang ditetapkan.
“Dari rencana 1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar. Melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari 1 miliar menjadi 1,5 billion USD yang di mana itu dibagi menjadi 5 tahun dan juga 10 tahun,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan awal pekan ini.
Penerbitan obligasi global perdana ini juga telah meraih respons positif dari kunjungan ke sejumlah negara di antaranya Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Rosan juga menyebut bahwa pihaknya bertemu dengan 122 investor global dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Di samping capaian penerbitan jumlah obligasi yang melampaui target, Danantara juga berhasil memperoleh persentasi pengembalian hasil obligasi yang dinilai kompetitif. Obligasi dengan tenor lima tahun berhasil ditutup dengan nilai imbal hasil 5,35 persen sementara tenor 10 tahun 5,95 persen.
“Tentunya ini adalah hasil yang sangat-sangat baik dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia sangat tinggi dan ini terbukti secara riil melalui respon ini,” imbuhnya.
Dijelaskan juga bahwa dari dua tenor surat utang yang diterbitkan oleh Danantara, masing-masing telah berhasil menghimpun dana sebesar 750 juta dolar Amerika. Rosan menyebut bahwa sebagian dari penerbitan obligasi tersebut bahkan telah terealisasi.
Ke depannya diproyeksikan Danantara akan dapat membuka ruang untuk menerbitkan obligasi dengan tenor hingga 30 tahun. Hal tersebut dinilai dari tingginya minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara hingga stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal ini tidak terlepas dari appetite yang sangat besar dengan dunia luar melihat bahwa Indonesia memiliki growth yang relatif stabil. Diakui Rosan, situasinya ada up and down tapi itu merupakan bagian dari cycle terlebih di tengah situasi geopolitik, geoekonomi, dan lainnya sehingga selalu ada dalam cycle tersebut.
Hal yang menjadi menarik dalam penerbitan obligasi global tersebut yakni dari negara yang memiliki minat paling tinggi. Peminat dan pembeli terbesar obligasi tersebut yakni Amerika Serikat dan ini berbeda dengan catatan sebelumnya.
“Investornya kurang lebih yang lima tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, dan 21 persen dari Asia. Kalau yang 10 tahun, investornya 52 persen dari Amerika Serikat, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 17 persen dari Asia,” pungkasnya.


