Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong industri konstruksi nasional menjadi pilar pembangunan berkelanjutan melalui penguatan daya saing, inovasi, dan peningkatan kualitas infrastruktur yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan saat membuka IndoBuildTech Expo 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, pekan ini. Menurutnya, sektor konstruksi memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja terlabih di tengah tantangan ekonomi global, penguatan industri konstruksi juga menjadi fondasi penting untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
“Sektor konstruksi ini terus berada di lima besar penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekaligus menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena itu jika sektor ini tumbuh sehat, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat melalui terbukanya lapangan pekerjaan dan bergeraknya roda perekonomian,” katanya.
Pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya dipandang sebagai pembangunan fisik semata. Lebih dari itu, pembangunan harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing nasional, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.
Pertumbuhan industri konstruksi akan mendukung berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari pembangunan tiga juta rumah, jalan, jembatan, jaringan irigasi, hingga Sekolah Rakyat yang seluruhnya membutuhkan ekosistem konstruksi nasional yang semakin kuat dan kompetitif.
“Kita tidak hanya ingin membangun lebih banyak tetapi kita harus membangun lebih baik, lebih berkualitas, lebih berdampak, dan membangun untuk semua. Artinya tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dari pembangunan,” imbuhnya.
AHY juga mengapresiasi kian besarnya peran industri nasional dalam memenuhi kebutuhan pembangunan. Sekarang semakin banyak produk karya anak bangsa yang memiliki kualitas internasional dengan kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang terus meningkat.
Untuk itu pemerintah akan terus mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif melalui regulasi yang memberikan kepastian, kemudahan, dan berbagai insentif agar industri konstruksi nasional semakin berkembang dan semakin bisa bersaing dengan produk dari negara lain.
Tantangan pembangunan ke depan juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap kualitas infrastruktur. Ancaman perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana alam mengharuskan Indonesia membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan adaptif.
“Ke depan kita harus semakin adaptif menghadapi krisis iklim. Material konstruksi yang digunakan harus semakin kuat, semakin tangguh, dan resilient terhadap berbagai potensi bencana sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” pungkas AHY.
IndoBuildTech Expo 2026 diikuti sekitar 500 tenant, sekitar 90 persen berasal dari industri dalam negeri sementara sisanya berasal dari berbagai negara seperti Tiongkok, Singapura, Vietnam, Kanada, dan sejumlah negara lainnya. Kehadiran peserta internasional diharapkan memperkuat transfer teknologi, memperluas jejaring bisnis, serta meningkatkan daya saing industri konstruksi Indonesia di pasar global.


