Bila kita melakukan survei terkait berapa lama perjalanan yang dibutuhkan dari rumah ke tempat kerja, tentu akan banyak yang menghela napas. Perjalanan yang jauh, kondisi jalan macet hingga memakan waktu lama, dan berbagai kendala lain masih banyak dihadapi mayoritas kalangan pekerja perkotaan.
Akhirnya, rasa lelah di perjalanan ini yang mendorong peerubahan besar dalam orang memilih tempat tinggal, yaitu mencari kawasan yang bisa memudahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk akses yang lebih cepat ke tempat kerja.
Para perencana kota menyebutnya sebagai kota 15 menit (15-minute city). Kota Paris misalnya, menjadikan 15-minute city sebagai program kota sementara Melbourne memasukkannya ke dalam rencana jangka panjang kotanya.
Begitu juga di Seoul dengan merancang dan mengujinya di distrik baru. Konsepnya sederhana, bagaimana sekolah, supermarket, klinik, taman, kafe, hingga ke kantor idealnya bisa dijangkau dalam waktu sekitar 15 menit dari rumah.
Nah, konsep ini juga tentu menarik untuk kawasan besar Jabodetabek. Sebagai kawasan megapolitan, Jabodetabek termasuk area urban terbesar di dunia baik dari sisi luasan maupun populasinya.
Masalahnya bukan sekadar jarak tetapi waktu yang habis di jalan karena fungsi kota yang tersebar. Banyak keluarga tinggal di satu wilayah, bekerja di wilayah lain, lalu harus ke wilayah ketiga untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti mal ataupun rumah sakit.
Kota mandiri terintegrasi menjawabnya dengan merencanakan semuanya sejak awal. Bukan rumah dulu lalu fasilitas “menyusul”, melainkan jalan, sekolah, area komersial, dan ruang hijau memang dirancang sebagai satu kesatuan sistem.
Mengok konsep itu bisa dilihat dalam pengembangan Agung Sedayu Group yang membangun dengan pendekatan kota 15 menit sejak beberapa dekade lalu. konsep itu bisa dilihat di PIK2, sebuah area di Tangerang Utara yang saat ini menjadi contoh paling ambisius: kota pesisir dengan klaster hunian, CBD yang terus tumbuh, Indonesia Design District, sekolah internasional, pusat konvensi berskala besar, dan terhubung ke bandara dan jaringan tol.
Kawasan lainnya di Grand Galaxy City Bekasi, berkembang menjadi kawasan lengkap dengan mal, sekolah, dan deretan area komersial. Kemudian Green Lake City yang menghadirkan hunian di sekeliling danau dan ruko sementara Sedayu City Kelapa Gading memberi wajah baru yang tertata di salah satu kawasan paling mapan di Jakarta.
Untuk memastikan konsep 15-minute city-nya, beberapa hal yang harus diperhatikan setidaknya tiga hal. Fasilitas yang sudah beroperasi apa saja, jadi bukan hanya yang tertera di brosur. Pastikan ada pusat komersial nyata untuk orang bekerja, bukan sekadar belanja.
Kemudian aksesibilitas harus ada lebih dari satu jalur seperti adanya akses jalan tol, jalan arteri, hingga rencana transportasi publik di kawasan. Bila berbagai syarat ini telah mencakup maka propertinya bisa dipastikan akan stabil nilainya karena kawasannya menawarkan sesuatu yang lengkap.


