Pasar kondominium Jakarta hingga periode kuartal ketiga (Q3) 2026 menujukkan tidak ada pasokan baru yang membuat total akumulasi unit tetap berada di angka 260.236 unit. Laporan ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh Leads Property Services Indonesia.
Leads Property juga menyebut, sebelumnya sempat ada penambahan unit baru namun dengan jeda ini menjadi sejalan dengan tren umum di mana kalangan pengembang tetap bersikap hati-hati di tengah tingkat penyerapan yang melambat.
Berbagai kondisi menjadi penyebab situasi ini, antara lain volatilitas makro ekonomi baik di tingkat global dan nasional. Namun begitu, pasokan unit kondominium diperkirakan akan kembali meningkat pada kurtal berikutnya seiring dengan rencana peluncuran Eluna Tower di Casa Grande, Jakarta Selatan.
“Situasi ini membuat permintaan pasar apartemen di Jakarta turun signifikan khususnya pada periode kuartal ini dengan tingkat penyerapan per kuartal hanya sebesar 116 unit. Angka ini hampir separuh dari volume yang tercatat pada periode kuartal sebelumnya,” ujar Hendra Hartono, CEO Leads Property Services Indonesia.
Jika dibandingkan secara tahunan (yoy), penurunan penyerapan unit kondominium juga menjadi lebih tajam pada periode yang sama tahun lalu. Situasi ini membuat tingkat penjualan bertahan stabil di angka 83,2 persen selama tiga kuartal terakhir.
Sementara dari sisi konsumen, sektor kondominium juga masih didominasi oleh segmen pengguna akhir (end user). Segmen ini tertarik membeli terutama karena dukungan perpanjangan insentif PPN DTP untuk unit siap unit yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Permintaan segmen ini juga tetap tangguh terutama di segmen kelas atas yang mencari unit dengan tata ruang lebih luas. Pasar kondominium di Jakarta memang menunjukkan tingkat penyerapan dengan aktivitas transaksi di masa depan masih akan lebih banyak bersumber dari segmen menengah ke atas.
Kendati insentif PPN DTP sebesar 100 persen sempat menjadi katalis sementara bagi likuiditas pasar sepanjang tahun 2026, sektor hunian vertikal ini masih menghadapi persaingan struktural yang kian ketat khususnya dari pasar rumah tapak di wilayah Jabodetabek.
“Segmen pasar masal mungkin akan beralih menjalin kemitraan dengan hotel, operator hunian bersama (co-living), atau perusahaan manajemen aset untuk memonetisasi unit tipe studio dan satu kamar tidur. Dengan mempertimbangkan tren-tren tersebut, harga pasar diperkirakan akan tetap stabil,” beber Hendra.


