Pasar perkantoran Jakarta terus menunjukkan perbaikan pada kuartal kedua tahun 2026, kendati situasi pemulihan masih berlangsung secara bertahap dan bersifat selektif. Aktivitas sewa masih didominasi oleh relokasi, peningkatan kualitas ruang (upgrading), dan penyesuaian kebutuhan luasan kantor (rightsizing), dibandingkan ekspansi bisnis secara luas.
Di sisi lain, terbatasnya pasokan baru justru membantu menjaga stabilitas pasar sementara akumulasi ruang kosong yang ada seluas sekitar tiga juta meter persegi membuat pemilik gedung tetap fleksibel dalam proses negosiasi.
“Situasi ini tetap membuat kondisi pasar masih berpihak kepada penyewa (demand side) dengan perusahaan semakin memprioritaskan efisiensi operasional, pengendalian biaya, serta kesiapan ruang kerja,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia.
Selain itu ada kebutuhan penyewa yang kini juga semakin spesifik. Ruang kantor siap pakai (ready-to-occupy), semi-fitted, maupun fully furnished semakin diminati karena mampu mengurangi belanja modal (capital expenditure), mempercepat proses persetujuan internal, serta memungkinkan relokasi dilakukan dalam waktu lebih singkat.
Selain itu, kondisi lainnya terkait konektivitas menuju transportasi publik khususnya MRT dan LRT. Perkantoran yang dekat dengan sarana transportasi publik telah menjadi salah satu faktor utama dalam pemilihan gedung perkantoran.
Hal lainnya bagi perusahaan multinasional, sertifikasi bangunan hijau tidak lagi dipandang sebagai nilai tambah melainkan telah menjadi bagian dari persyaratan korporasi yang didorong oleh kebijakan environmental, social, governance (ESG) perusahaan induk.
Untuk menjawab perubahan kebutuhan tersebut, pemilik gedung perlu menawarkan solusi penyewaan yang lebih berorientasi pada kebutuhan penyewa. Pilihan ruang fitted, skema sewa yang fleksibel, periode bebas sewa (rent-free period), kontribusi biaya fit-out, hingga opsi penambahan maupun pengurangan luas ruang menjadi semakin penting.
Dibandingkan sekadar menurunkan harga sewa, pemilik gedung akan lebih kompetitif apabila mampu mengurangi hambatan relokasi penyewa sekaligus memberikan kepastian operasional yang lebih baik.
Bagi gedung perkantoran yang telah lama beroperasi, peningkatan kualitas aset menjadi strategi yang jauh lebih realistis dibandingkan melakukan pembangunan ulang. Renovasi area lobi, lift, toilet, sistem bangunan, peningkatan kualitas udara dalam ruangan, hingga perolehan sertifikasi bangunan hijau akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan sekaligus menarik penyewa baru.
“Pada akhirnya gedung yang mampu memenuhi kebutuhan penyewa terkait efisiensi, fleksibilitas, aksesibilitas, dan keberlanjutan diperkirakan akan pulih lebih cepat dibandingkan gedung yang masih mengandalkan strategi diskon harga semata,” imbuh Ferry.


