Dua pemilik jaringan pusat perbelanjaan di Indonesia, James Riady dari Lippo Group dan Alexander Tedja dari Pakuwon Group, menegaskan kondisi keamanan nasional tetap kondusif sehingga tidak ada kebutuhan memasang pagar pembatas di mal. Hal ini untuk merespon terkait pemasangan pagar yang viral di media sosial.
James yang juga Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia sekaligus Chairman Lippo Group mengatakan, seluruh mal milik Lippo pernah memasang pagar ketika Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu namun pagar-pagar tersebut telah lama dibongkar seiring membaiknya situasi keamanan.
“Dulu memang semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan tapi sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang,” ujarnya. Alexander sebagai pendiri Pakuwon Group mengatakan hal yang sama, pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akan segera dibongkar.
“Pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen lokal tanpa arahan dari pemegang saham maupun kantor pusat. Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar,” kata Alex.
Statement dari kedua owner mal ini direspon positif oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait. Setelah isu pagar mal menjadi perhatian publik, Maruarar menyebut mengapresiasi manajemen Lippo maupun Pakuwon langsung merespon sehingga tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
“Saya sudah berbicara langsung dengan Pak Alex dan Pak James. Keduanya memang mengatakan itu hanya inisiatif manajemen lokal dan akan segera diselesaikan. Mereka adalah pemilik mal dan hotel di Indonesia, jadi sikap keduanya patut diapresiasi karena kondisi keamanan kita memang baik,” ujarnya.
Karena itu James menilai tidak ada alasan bagi masyarakat untuk merasa cemas terhadap kondisi sosial maupun ekonomi. Menurut dia, pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan strategis, antara lain mempertahankan harga BBM bersubsidi, tarif listrik rumah tangga bersubsidi, dan harga LPG 3 kilogram di tengah lonjakan harga energi dunia akibat konflik geopolitik.
“Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kgtidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah. Stabilitas tersebut tercermin dari perkembangan industri pusat perbelanjaan yang justru sedang menikmati pertumbuhan sangat kuat. Permintaan ruang usaha dari para tenant saat ini bahkan melampaui ketersediaan ruang di banyak mal,” beber James.
Karena prospek industri yang positif tersebut, Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini grup tersebut mengelola 71 mal dan 35 shopping center, total 106 pusat perbelanjaan, yang tersebar di lebih dari 29 kota di Indonesia. Lippo Group memiliki pangsa pasar sekitar 25 persen dari total ruang ritel modern di Indonesia.
Sementara Pakuwon Group merupakan salah satu pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan dengan jaringan mal yang tersebar di berbagai kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, dan Solo. Di Surabaya, ada Pakuwon Mall Surabaya, Tunjungan Plaza, Pakuwon City Mall, Royal Plaza, dan Food Junction. Sedang di Jakarta, Pakuwon mengelola Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Blok M Plaza.


