Pemerintah kembali menegaskan mengenai konsep pengembangan transit oriented development (TOD) untuk menjadi solusi kawasan perkotaan. Konsep TOD bukan semata sebuah sistem transportasi yang terintegrasi tapi juga untuk membangun kualitas hidup masyarakat melalui pengembangan kawasan yang lebih produktif, sehat, nyaman, dan berkelanjutan.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tren urbanisasi yang terus meningkat menuntut pemerintah menyiapkan kawasan perkotaan yang mampu mengintegrasikan berbagai aktivitas masyarakat mulai dari tempat tinggal, pusat pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga pusat ekonomi dan ruang publik dalam satu ekosistem yang didukung transportasi masal yang terhubung.
“Konsep TOD bisa mengurangi waktu perjalanan hingga meningkatkan produktivitas. Jika sebuah kawasan bisa mengintegrasikan antara kawasan atau lokasi tempat tinggal masyarakat, kemudian lokasi tempat bekerja, pendidikannya, bisnisnya, belanjanya, kesehatan, dan semua fasilitas pendukung yang dibutuhkan untuk berkegiatan atau berkehidupan sehari-hari, maka idealnya kehidupan kita semakin berkualitas,” ujarnya.
Sebuah kawasan TOD bisa mendorong produktivitas masyarakat, memberikan waktu yang lebih banyak untuk meningkatkan sumber daya manusia, hingga menjaga lingkungan tetap asri. Pengembangan TOD menjadi jawaban atas berbagai tantangan perkotaan seperti kemacetan, peningkatan emisi karbon, keterbatasan lahan, hingga menurunnya kualitas lingkungan.
Oleh karena itu pembangunan kawasan tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur transportasi tetapi juga harus mengintegrasikan tata ruang, tata guna lahan, mobilitas aktif, aktivitas ekonomi, kelestarian lingkungan, serta aspek sosial masyarakat.
Untuk itu pembangunan perkotaan ke depan harus berorientasi pada manusia (people-centered development) sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat melalui peningkatan kualitas hidup, efisiensi mobilitas, dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Pada dasarnya TOD merupakan upaya mengintegrasikan berbagai kebutuhan masyarakat ke dalam satu kawasan yang saling terhubung dan saling mendukung. Masyarakat dapat tinggal, bekerja, berbelanja, mengakses pendidikan, layanan kesehatan, hingga berbagai fasilitas publik dalam kawasan yang terintegrasi. Seluruh aktivitas tersebut didukung oleh sistem transportasi publik yang nyaman, aman, dan saling terkoneksi,” imbuhnya.
Keberhasilan TOD sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, swasta, akademisi, komunitas, hingga masyarakat harus berjalan bersama agar pembangunan kawasan dapat memberikan manfaat yang optimal.
Selain itu sangat penting untuk menjadikan tata ruang sebagai fondasi utama dalam setiap pengembangan kawasan. Perencanaan tata ruang yang baik akan memastikan pembangunan berlangsung secara terarah, mengurangi potensi konflik lahan, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
“Konsep TOD yang selama ini kita bangun harus menjadi best practice yang direplikasi di berbagai kota dan dengan kolaborasi yang kuat, perencanaan yang matang, kawasan TOD akan bisa menjadi motor penggerak pembangunan wilayah sekaligus meningkatkan daya saing kota-kota Indonesia di masa depan,” pungkas AHY.


