Jarangnya launching proyek apartemen menunjukkan sikat berhati-hati kalangan pengembang di tengah absorb (penyerapan) pasar yang masih belum kuat serta ketidakpastian daya beli masyarakat.
Berdasarkan riset Leads Property, pasar apartemen Jakarta periode kuartal kedua 2026 ini mencapai angka 260.236 unit atau hanya bertambah 336 unit saja di kuartal ini dengan penambahan yang disumbangkan oleh area Jakarta Selatan.
Namun penambahan unit untuk periode ini bukan dari proyek baru yang dibangun melainkan kelanjutan dilepasnya produk hunian ke pasar dari sebuah tower yang sebelum pandemi telah dibangun terlebih dahulu. Hingga akhir tahun ini akan ada launching tower bari yaitu Tower Eluna di Casa Grande, Jakarta Selatan.
“Untuk tingkat penjualannya sedikit turun ke angka 83,2 persen atau tercatat di angka 203 unit di kuartal ini yang didominasi oleh segmen atas. Dari harga jual masih stabil di rata-rata Rp28,3 juta/m2 atau di area CBD Rp59 juta/m2 sementara non CBD Rp49 juta/m2,” ujar Martin Hutapea, Head of Research & Consultancy Leads Property Indonesia.
Supaya unit apartemen yang dipasarkan bisa terserap secara masal, harus terus didorong segmen generasi muda pekerja khususnya yang bekerja di area CBD untuk berhunian di apartemen. Hal ini juga supaya bisa terwujud konsep work-life balance yang merupakan target relevan.
Segmen pekerja muda membutuhkan hunian kondominium yang mudah dan cepat diakses dari stasiun MRT/LRT agar tidak membuang waktu berkendara di j alanan namun tetap affordable dengan luas unit yang memadai ditambah dengan fasilitas lengkap
Bila ingin memiliki apartemen untuk kalangan single, unit tipe 1 BR (40-45 m2) di harga Rp800 juta-Rp900 jutaan menjadi sangat menarik karena menawarkan unit yang lebih nyaman dibandingkan yang luasannya 30 m2.
Kemudian untuk yang memiliki keluarga, diperlukan unit size yang memadai juga misalkan tipe 2 BR seluas 60-80 m2 di harga Rp1,2 miliar-Rp1,6 miliar. Ini relevan untuk keluarga dengan satu anak. Sedangkan untuk keluarga dengan dua anak, tipe 3BR seluas
90-110 m2 cukup menarik dengan harga di Rp1,8 miliar-Rp2,2 miliar per unit.
Tren hunian tipe studio maupun 3 BR yang ditawarkan pada masa lalu tidak lagi relevan di luasan 20 m2 (studio) hingga 65 m2 (3 BR) karena terlalu sempit. Sementara untuk unit mix yang lebih besar harganya terlampau mahal.
Maka menurut Martin, bila hendak membangun hunian vertikal yang baru, unit mix perlu dipertimbangkan. Kondisi ini bisa berlaku bagi proyek-proyek yang mungkin mangkrak dan perlu “dihidupkan” kembali.
“Jadi calon pembeli yang tidak mau menghabiskan waktu di jalan terlalu lama serta tidak mau menghabiskan biaya mahal karena operasional berkendaaan, bisa memilih rumah di area Bodetabek dengan membeli unit apartemen yang mudah diakses dari Stasiun MRT/LRT dan bisa mendapatkan luas unit yang memadai dengan harga yang affordable,” pungkasnya.


