PT Jasa Marga (Persero) Tbk menegaskan posisinya sebagai pemimpin industri jalan tol nasional dengan optimalisasi jaringan dan portofolio jalan tol, serta pengembangan sumber pertumbuhan baru.
Strategi tersebut merupakan bagian dari upaya Jasa Marga untuk memastikan skala bisnis yang dimiliki dapat terus memberikan kontribusi optimal terhadap pertumbuhan perusahaan.
Dengan mengintegrasikan kekuatan jaringan, portofolio aset, layanan, teknologi, dan kapabilitas yang dimiliki, Jasa Marga melihat ruang pertumbuhan yang semakin luas bukan hanya dari bisnis jalan tol tetapi juga dari berbagai aktivitas ekonomi yang berkembang di sepanjang koridor.
Menurut Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantoro, melalui strategi ini Jasa Marga berhasil mempertahankan pertumbuhan kinerja positif pada semester satu 2026 dengan fundamental yang sehat sehingga memberikan ruang gerak bagi perusahaan untuk melanjutkan pengembangan bisnis secara prudent sekaligus menangkap peluang pertumbuhan baru.
“Kami melihat prospek bisnis Jasa Marga ke depan tetap positif. Dengan fundamental bisnis dan kondisi financial yang sehat, menjadi fondasi yang kuat bagi kami untuk terus mengoptimalkan portofolio aset sekaligus mencetak pertumbuhan nilai yang berkelanjutan (value creation),” ujarnya melalui siaran pers dikutip Minggu (27/9).
Fundamental pendapatan perusahaan ditopang oleh arus kas operasi yang solid. Hal ini memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang dan memperkuat ketahanan likuiditas dalam menghadapi dinamika makroekonomi.
Bukti dari ketahanan tersebut terlihat dari kinerja Jasa Marga hingga semester satu 2026. Perusahaan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,31 triliun, tumbuh 7,6 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan tol sebesar Rp9,5 triliun (naik 6,8 persen) dan pendapatan usaha lain sebesar Rp798,2 miliar (naik 17,6 persen).
Pertumbuhan top-line tersebut terkonversi positif ke pos profitabilitas, ditandai oleh EBITDA perusahaan naik 8,1 persen menjadi Rp6,99 triliun, dengan EBITDA margin tetap terjaga pada level 67,8 persen dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,91 triliun, tumbuh 2 persen.
Profil risiko utang pun tetap terkendali secara prudent, tecermin dari Gearing Ratio tercatat pada level 1,2 kali dengan Interest Coverage Ratio (ICR) tumbuh menjadi 3,9 kali, yang menunjukkan kapasitas perusahaan untuk menjaga kewajiban finansial sekaligus mempertahankan ruang untuk melanjutkan agenda investasi strategis dan pengembangan bisnis.
Selain itu salah satu kekuatan utama Jasa Marga terletak pada skala jaringan yang dimiliki. Hingga 30 Juni 2026, Jasa Marga memiliki 36 konsesi dengan total panjang 1.736 km dan telah mengoperasikan sekitar 1.294 km jalan tol yang merepresentasikan sekitar 42 persen dari total jalan tol yang beroperasi di Indonesia.
Skala tersebut memberikan basis bagi Jasa Marga untuk mengelola jaringan sebagai satu kesatuan portofolio dan network yang saling terhubung. Pendekatan ini membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan utilisasi jaringan sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi pada koridor-koridor yang dilalui.
“Kami melihat jaringan jalan tol sebagai sebuah network dengan value besar saat dikelola secara terintegrasi, yang dapat memperkuat hubungan antara pusat aktivitas ekonomi, kawasan industri, simpul logistik, maupun destinasi wisata, sehingga menciptakan peluang pertumbuhan baru di sepanjang jaringan,” beber Rivan.
Sejalan dengan optimalisasi portofolio, Jasa Marga terus memperluas sumber pertumbuhan melalui pengembangan ekosistem di sepanjang koridor jalan tol. Pengembangan tersebut diarahkan untuk membentuk new value pools dari aset dan koridor yang dimiliki.
Salah satu bentuk pengembangan ekosistem tersebut adalah transformasi Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) melalui Travoy Rest. Bagi perusahaan, pengembangan rest area merupakan bagian dari upaya memperluas fungsi koridor jalan tol. Selain mendukung kebutuhan perjalanan, keberadaan rest area dapat menjadi ruang bagi aktivitas ekonomi, termasuk memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM dan produk lokal.
Jasa Marga juga mengembangkan sejumlah lini bisnis prospektif di luar bisnis utama seperti building management, advertising dan utilitas, serta pengembangan Transit Oriented Development (TOD) dan Toll Corridor Development (TCD).
“Kami melihat setiap bagian dari koridor jalan tol memiliki potensi untuk menciptakan nilai. Rest area misalnya, tidak hanya kami lihat sebagai fasilitas pendukung perjalanan tetapi sebagai ruang yang dapat mempertemukan kebutuhan pengguna dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Pendekatan seperti ini yang terus kami kembangkan dalam membangun ekosistem jalan tol,” pungkasnya.


