Kisah Rosmini, pedagang sembako di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terkait perjuangannya memiliki rumah bisa menjadi inspirasi. Warung Rosmini pernah hancur diterjang angin putting beliung dan sempat terpikir untuk berhenti. Bukan berhenti, Rosmini bangkit dan kembali beraktivitas dengan berjualan nasi hingga mengembangkan usaha menjual gorengan, makanan ringan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Sekarang, bukan hanya usahanya kembali berdiri tapi Rosmini telah memiliki rumah sendiri melalui program KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Rosmini berhasil mengakses rumah di Puri Delta 12 City Side, Kabupaten Batang.
“Warung saya pernah hancur tapi semangat jangan sampai ikut hancur. Kembali berusaha, saya diberitahu saudara kalau melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) bisa punya rumah sendiri. Jadi sekarang warung saya pindah ke rumah,” katanya.
Kisah Rosmini bisa menjadi gambaran bahwa memiliki rumah pertama tidak selalu harus menunggu penghasilan besar. Melalui Program KPR FLPP, pemerintah memberikan dukungan pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) agar dapat memiliki rumah yang layak dan terjangkau. Program ini dikelola BP Tapera dan disalurkan melalui bank penyalur kepada masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Menurut Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho, sekarang menjadi timing bagi masyarakat yang belum memiliki rumah, termasuk generasi muda yang telah memenuhi persyaratan, untuk memanfaatkan kesempatan kepemilikan rumah melalui program KPR subsidi FLPP.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan program FLPP. Menariknya, berdasarkan realisasi sementara hingga 4 September 2026, penerima manfaat tertinggi justru berasal dari kelompok usia 19–25 tahun atau Gen Z. Ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai memiliki kesadaran dan keberanian untuk merencanakan kepemilikan rumah sejak dini,” bebernya.
Dalam konteks tersebut, Heru berpesan kepada generasi muda untuk jangan merasa harus menunggu sampai memiliki penghasilan besar baru terpikir untuk memiliki rumah pertama. Yang penting adalah memahami kemampuan, memenuhi persyaratan, dan berani mengambil langkah pertama.
Hal lain yang harus dipahami, rumah pertama bukan sekadar bangunan tempat tinggal tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih baik bersama keluarga.
“Rumah pertama bukan tentang seberapa besar penghasilanmu, tapi tentang keberanian mengambil langkah pertama untuk masa depan. Setiap orang memiliki perjalanan dan kemampuan yang berbeda tetapi kesempatan untuk memiliki rumah dapat dimulai ketika kita berani mengambil langkah dan memanfaatkan kesempatan yang ada,” imbuhnya.
Pada tahun 2026, pemerintah menyediakan kuota sebanyak 350 ribu unit rumah subsidi melalui program KPR FLPP. Artinya, kesempatan bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan untuk memiliki rumah pertama masih terbuka.
Hingga 4 September 2026, realisasi sementara program FLPP periode 1 Januari–3 September 2026 telah mencapai 144.691 unit rumah, dengan nilai pembiayaan sebesar Rp17,99 triliun. Capaian ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat.
Dengan kuota yang masih tersedia, BP Tapera terus mendorong masyarakat yang belum memiliki rumah untuk mulai mencari informasi, mempertimbangkan kemampuan finansial, dan melihat peluang kepemilikan rumah melalui program FLPP.
Kita bisa belajar dari pedagang sembako seperti Rosmini bahkan tukang becak, ustaz, pedagang cilok, satpam, asisten rumah tangga, hingga generasi muda berusia 19–25 tahun, setiap penerima manfaat memiliki cerita dan titik awal yang berbeda. Namun, mereka membuktikan bahwa impian memiliki rumah dapat diwujudkan ketika ada kemauan untuk berusaha dan keberanian mengambil kesempatan.
“Sekali lagi, memiliki rumah pertama bukan tentang seberapa besar penghasilanmu. Tapi tentang keberanian kita mengambil langkah pertama untuk mulai membangun masa depan yang lebih baik,” pungkas Heru.


