Pengembang PT Intiland Development Tbk terus menunjukkan kinerja bisnis yang positif. Perusahaan berkode DILD berhasil mencatatkan capaian yang positif dalam upaya memperkuat kinerja dan fundamental finansial perusahaan dengan terus memperkuat neraca keuangan melalui strategi deleferaging selama tiga tahun terakhir.
Direktur Utama DILD Archied Noto Pradono mengatakan, deleveraging menjadi strategi prioritas yang dijalankan perusahaan untuk melakukan efisiensi pembiayaan sehingga bisa memperkuat keuangan dan menciptakan ruang pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Itu kami lakukan dengan berbagai upaya seperti pelunasan, pengurangan, dan atau refinancing beban utang dan bunga serta penjualan aset non-core sehingga bisa lebih efisien. Hingga akhir semester I 2025, total utang perusahaan tercatat sebesar Rp4,38 triliun dan jumlah ini menurun Rp687 miliar atau 14 persen dari Rp5,06 triliun,” jelasnya.
Turunnya jumlah utang ini mencerminkan keberhasilan Intiland dalam mengelola kewajiban keungan secara berkelanjutan dan memperbaiki struktur finansial perusahaan. Seiring dengan penurunan jumlah utang, beban bunga juga turun signifikan mencapai sekitar 16,7 persen dalam tiga tahun terakhir.
Pada tahun 2022 beban bunga pinjaman perusahaan mencapai Rp518,1 miliar dan tahun 2023 turun menjadi Rp489,9 miliar. Penurunan tersebut berlanjut pada tahun 2024 dengan jumlah beban bunga sebesar Rp431,8 miliar. Pada 30 Juni 2025, beban bunga tercatat sebesar Rp176,3 miliar.
Strategi deleveraging diterapkan sebagai komitmen perusahaan dalam menjaga stabilitas dan struktur finansial. Upaya struktur biaya yang efisien dan peningkatan kinerja penjualan, khususnya dari segmen kawasan industri menjadi faktor penting dalam memperbaiki kinerja keuangan secara keseluruhan dan menjaga rasio-rasio keuangan tetap sehat.
“Selain mendorong kinerja penjualan, fokus penting kami saat ini adalah menjalankan strategi deleveraging secara disiplin mulai dari pelunasan, pengurangan, refinancing pinjaman berbunga tinggi, hingga divestasi aset non-core. Langkah ini akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan beban bunga dan penguatan struktur permodalan,” tambahnya.
Penurunan jumlah utang juga menyebabkan posisi rasio-rasio keuangan perusahaan semakin membaik. Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) terus membaik menunjukkan struktur finansial yang semakin sehat.
Jika pada tahun 2022 rasio utang terhadap ekuitas perusahaan masih mencapai 61,1 persen, maka berangsur-angsur turun menjadi 58,5 persen pada tahun 2023, dan menjadi 50,3 persen pada tahun 2024. Per semester I 2025, rasio utang terhadap ekuitas kembali menurun menjadi 47 persen.
Langkah-langkah efisiensi biaya dan peningkatan kinerja penjualan khususnya dari segmen kawasan industri yang menunjukkan permintaan tinggi turut mendukung keberhasilan ini. Strategi yang dilakukan dengan fokus pada peningkatan kinerja yang berkelanjutan serta memperkuat fondasi keuangan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Struktur keuangan yang lebih sehat akan meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing dalam industri properti nasional. Kami akan selalu menjaga kepercayaan investor dan memastikan struktur keuangan perusahaan tetap solid dan adaptif terhadap perubahan pasar,” imbuh Archied.


