Kawasan industri terus berekspansi ke koridor timur seperti area Karawang, Purwakarta, hingga Subang. Wilayahnya juga menawarkan keunggulan dari sisi ketersediaan lahan, konektivitas logistik yang makin baik, dan kesiapan untuk aktivitas manufaktur berskala besar.
Pemerintah dengan penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti KEK Batang dan Subang akhirnya berkembang pesat menjadi pusat distribusi regional. Hal ini berkat infrastruktur yang semakin terintegrasi dengan dukungan berbagai insentif pemerintah. Di saat bersamaan, Indonesia kian dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen asal China.
Situasi geopolitik yang tidak stabil dan kebutuhan diversifikasi manufaktur membuat investor China memperluas portofolio mereka di Indonesia. Namun, dinamika geopolitik global juga dapat berdampak pada perilaku investor.
Menurut tim Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, meskipun Indonesia tidak berada di wilayah konflik, termasuk konflik antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat, situasi tersebut tetap dapat memengaruhi sentimen investasi di dalam negeri.
Menurut Head of Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia Rivan Munansa, aktivitas operasional perusahaan China di Indonesia masih berjalan stabil tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati.
“Itu membuat ada implikasi terhadap rantai pasok yang dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil. Berbagai potensi maupun dampak yang dapat timbul di tengah kondisi ketegangan global yang saat ini berlangsung bisa dilihat dari berbagai faktor,” ujarnya.
Rivan membagi tiga potensi dampak konflik yang dapat terjadi. Pertama, potensi hambatan jangka pendek berupa ketegangan global yang dapat menyebabkan penundaan ekspansi karena investor cenderung bersikap lebih berhati‑hati.
Kedua, potensi perubahan dalam jangka menengah seperti permintaan lahan industry yang berpeluang meningkat apabila Indonesia dinilai memiliki stabilitas dan daya saing yang memadai.
Ketiga, potensi penyesuaian dalam jangka panjang seperti perubahan dalam rantai pasok dari wilayah yang terdampak dapat mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan berbagai lokasi produksi alternatif dengan Indonesia sebagai salah satu kemungkinan yang dievaluasi.
Dengan meningkatnya momentum di koridor timur Greater Jakarta, investor dan pengembang kini menyesuaikan strategi mereka. Bekasi dan Karawang lebih banyak menyerap Standard Factory Buildings (SFB) plug‑and‑play sementara Purwakarta dan Subang diminati pembeli lahan besar.
Peningkatan konektivitas, terutama melalui Pelabuhan Patimban dan jaringan jalan tol baru, telah memposisikan kembali kawasan industri di koridor timur sebagai anchor utama, bukan lagi sebagai hub satelit sekunder.
“Dalam proses memperkuat struktur industrinya, Indonesia dapat menempatkan KEK sebagai komponen strategis bagi pertumbuhan ekonomi masa depan mencakup fungsi manufaktur ekspor serta peran sebagai hub distribusi regional dan simpul rantai pasok terintegrasi,” pungkasnya.


