Permintaan untuk kawasan industri masih cukup kuat dengan konsep Standard Factory Buildings (SFB) muncul sebagai pengubah permainan (games changer) di kawasan industri. Itu yang membuat pasar lahan industri khususnya di wilayah Jakarta Raya hingga kuartal ketiga 2025 terus menunjukkan dinamika yang kuat kendati ada banyak gejolak perekonomian maupun politik global dan nasional.
Wilayah Bekasi mulai mendekati kapasitas maksimumnya hingga mendorong ekspansi ke wilayah Karawang, Purwakarta, dan Subang yang menawarkan ketersediaan lahan lebih luas dan efisiensi biaya yang lebih tinggi.
Sektor utama yang mendorong permintaan meliputi segmen otomotif, kendaraan listrik (EV), logistik, dan barang konsumsi cepat saji (FMCG), yang diikuti dengan meningkatnya jumlah penyewa berskala menengah.
SFB merupakan salah satu tren yang sangat menonjol dan oleh pengelola kawasan industri dijadikan sebagai solusi plug-and-play yang fleksibel, modular, dan didukung oleh teknologi digital.
Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan monetisasi lahan dan mendukung kebutuhan operasional yang cepat. Pemulihan pasca kerusuhan juga berlangsung cepat dan kondisi ini menjaga optimisme menuju tahun 2026.
Untuk memanfaatkan momentum pasar, pengembang perlu mempercepat strategi portofolio hibrida, yaitu menggabungkan penjualan lahan dalam skala besar di koridor ekspansi seperti Purwakarta-Subang dengan pengembangan SFB di area matang seperti Bekasi-Karawang.
Fokus pada keunggulan operasional seperti infrastruktur utilitas siap pakai, teknologi kawasan pintar, dan model sewa fleksibel akan menarik penyewa dari sektor teknologi, logistik, dan manufaktur ringan.
Operator kawasan industri harus terus meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah dan pelabuhan strategis seperti Patimban guna memperkuat rantai pasok ekspor. Selain itu penting untuk membangun kapasitas mitigasi risiko sosial dan komunikasi investor demi menjaga persepsi stabilitas. Dengan pendekatan yang proaktif seperti ini, para pelaku industri dapat memasuki fase pertumbuhan yang lebih optimis di tahun 2026.
Pusat pertumbuhan baru juga akan menjadi pendorong perkembangan perekonomian di wilayah Jabodetabek. Kendati total penjualan masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berbagai tanda pemulihan mulai terlihat dan pada kuartal kedua telah mencatatkan lonjakan yang signifikan.
Kawasan industri Utama seperti Artha Industrial Hill (AIH) dan Modern Cikande muncul sebagai pusat aktivitas, didorong oleh minat kuat dari sektor manufaktur dan energi terbarukan, termasuk aliran investasi dari perusahaan asal Tiongkok. Sementara itu, wilayah seperti Purwakarta dan Subang mulai mendapatkan perhatian sebagai alternatif strategis, berkat ketersediaan lahan yang luas dan peningkatan infrastruktur seperti Pelabuhan Patimban.
Untuk meraih kesuksesan di tengah perubahan lingkungan bisnis, pengembang kawasan industri perlu bersikap lebih fleksibel dan visioner. Saat melakukan ekspansi ke wilayah baru seperti Subang dan Purwakarta, penting untuk meningkatkan infrastruktur pendukung serta menonjolkan nilai tambah yang ditawarkan seperti insentif investasi dan prosedur perizinan yang lebih sederhana.
Kemudian membangun kemitraan strategis dengan industri yang berkembang pesat seperti manufaktur berteknologi tinggi, energi terbarukan dan logistik, akan menjadi kunci dalam menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. Terakhir, menjaga stabilitas harga sambil tetap responsif terhadap permintaan pasar akan membantu pengembang tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya dan ketidakpastian global.
Oleh:
Ferry Salanto, Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia


