Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mendorong agar para broker properti ikut berperan aktif dalam pengembangan secondary market rumah subsidi.
Menurutnya, keberadaan broker merupakan bagian penting dari ekosistem perumahan nasional khususnya untuk memperlancar proses jual-beli rumah subsidi yang telah memenuhi syarat untuk dijual.
“Kalau masyarakat telah memenuhi syarat dan ingin naik kelas ke rumah yang lebih besar, seharusnya ada mekanisme secondary market agar rumah subsidi itu bisa dijual kembali dengan tertib. Ini bisa menjadi peluang ekonomi bagi broker sekaligus memperkuat ekosistem perumahan rakyat,” ujarnya di acara peringatan HUT ke-33 Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi).
Konsep broker rumah subsidi harus dipelajari lebih dalam dan diatur dengan baik supaya sejalan dengan kebijakan pemerintah dengan tetap menjaga asas pemerataan akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Maruarar menyebut, ada potensi pasar secondary rumah subsidi yang sangat besar. Tahun lalu, pemerintah menyalurkan sekitar 200 ribu unit rumah subsidi dan pada tahun 2025 meningkat menjadi 350 ribu unit.
“Bila setiap tahun bisa mencapai angka seperti itu maka dalam 10 tahun akan ada sekitar 3,5 juta rumah subsidi. Ini adalah potensi yang luar biasa dan bisa menjadi sumber penghidupan baru bagi puluhan ribu broker di seluruh Indonesia,” imbuhnya.
Ke depan, kerja sama antara pemerintah, perbankan, pengembang, dan asosiasi broker seperti Arebi bisa membangun sistem yang saling terhubung (link and match). Dengan begitu pasar rumah subsidi bukan hanya tumbuh dari sisi penyediaan tapi juga bergerak aktif di sisi transaksi dan perputaran ekonomi masyarakat. Bila ekosistem ini terbentuk maka pemerataan ekonomi bisa tercapai dari atas hingga ke bawah.
“Kami akan membantu untuk meningkatkan target penjualan hunian baik itu rumah subsidi maupun komersial. Kami juga siap untuk menyukseskan program 3 juta rumah yang dijalankan pemerintah,” pungkas Ketua Umum Arebi Clement Francis.


