Kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen menunjukkan bahwa Bank Indonesia (BI) saat ini lebih mengutamakan stabilitas makroekonomi, khususnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi yang berpotensi meningkat, termasuk akibat kenaikan harga energi atau BBM.
Apa dampak kenaikan BI Rate untuk sektor properti khususnya terhadap KPR? Menurut Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, dari perspektif sektor properti kenaikan suku bunga tentu bukan kabar yang ideal karena akan meningkatkan biaya pendanaan baik bagi pengembang maupun konsumen.
“Tapi di sisi lain kenaikan sebesar 25 basis poin masih relatif moderat dan belum cukup besar untuk mengubah fundamental pasar properti maupun mengganggu ekosistem investasi properti secara signifikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, menurut Ferry hal yang perlu dicermati justru bukan kenaikan BI Rate melainkan berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan seperti kenaikan suku bunga, kenaikan biaya hidup, harga energi, dan potensi pelemahan daya beli masyarakat.
Dalam kondisi pasar properti yang masih berada dalam fase pemulihan, kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi memberikan tekanan yang lebih besar dibandingkan kenaikan suku bunga semata. Karena itu kenaikan BI Rate saat ini lebih berpotensi memperlambat akselerasi pasar dibandingkan membalikkan arah pasar menjadi negatif.
Jadi bila dikaitkan apakah situasi ini masih aman bagi investasi properti, relatif tetap aman. Hal itu karena properti merupakan aset riil (real asset) yang memiliki kemampuan menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan volatilitas pasar keuangan.
Selain itu fundamental sektor properti Indonesia saat ini relatif lebih sehat dibandingkan
beberapa periode sebelumnya dengan tingkat leverage pengembang cenderung lebih terkendali, pasokan di berbagai segmen lebih rasional, dan sektor perbankan masih memiliki likuiditas yang cukup baik untuk mendukung pembiayaan properti.
Walaupun begitu kenaikan suku bunga tetap meningkatkan opportunity cost investasi. Ketika instrumen seperti deposito atau obligasi menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dengan risiko yang relatif lebih rendah, sebagian investor akan menjadi lebih selektif dan cenderung menunda investasi properti yang bersifat spekulatif.
“Karena itu pasar properti tahun ini akan lebih banyak ditopang oleh kebutuhan riil (end user demand) dibandingkan pembelian yang didorong motif investasi jangka pendek. Prospek tetap positif tapi pertumbuhannnya lebih moderat dan pasar akan bergerak kian selektif dengan produk yang sesuai kebutuhan pasar,” bebernya.


