Perusahaan manajemen dan konsultasi properti Colliers Indonesia menyimpulkan adanya tanda-tanda perbaikan di sektor properti pada kuartal pertama 2026. Hal itu dirilis dalam Quarterly Property Market Report Q1 2026.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, situasi perbaikan itu khususnya terlihat pada sektor perkantoran yang menunjukkan momentum positif khususnya untuk ruang kantor kelas premium (Grade A).
“Sementara itu untuk penyewa ritel semakin mengutamakan efisiensi dengan memilih lokasi mal yang memiliki trafik pengunjung tinggi meskipun hanya tersedia ruang sewa yang lebih kecil. Di sektor residensial, sekitar 60 persen transaksi yang terjadi selama triwulan pertama 2026 didorong oleh apartemen yang siap huni,” ujarnya.
Di sektor hotel, segmen hotel bintang lima masih mendominasi pasokan baru terutama di wilayah Bali. Kondisi ini didukung dengan meningkatnya permintaan terhadap layanan yang bersifat personal dan privasi yang semakin mendefinisi ulang konsep wisata mewah.
Sementara itu untuk sektor perhotelan di Jakarta, kreativitas serta kelincahan dalam menciptakan dan mengoptimalkan pasar menjadi faktor penting untuk menangkap segmen permintaan yang semakin bersaing. Adapun pada sektor logistik di Jakarta, tingkat permintaan terus dikontribusi oleh pergudangan yang terletak di timur Jakarta.
Di kuartal pertama 2026, perusahaan-perusahaan mulai secara aktif mengeksplorasi berbagai pilihan serta memperdalam pemahaman mengenai pasar perkantoran Jakarta. Namun begitu sebagian besar masih berada pada tahap awal dalam menyesuaikan antara kebutuhan ruang dan pemilik gedung yang menawarkan paket harga sewa yang menarik.
Perusahaan juga cenderung mencari ruang kantor yang lebih efisien, mencerminkan struktur organisasi yang semakin ramping. Bagi sebagian besar perusahaan multinasional, sertifikasi green building semakin menjadi preferensi, dan persyaratan dasar dalam setiap pencarian kantor.
Pemilik gedung, khususnya bangunan baru dengan tingkat kekosongan yang relatif masih tinggi semakin fokus untuk mendapatkan penyewa utama guna meningkatkan daya tarik gedungnya.
Memasuki tahun 2026, permintaan pasar mulai bergerak didominasi oleh peningkatan permintaan relokasi penyewa. Seiring mulai terbatasnya ruang kantor gedung premium, penyewa mulai mempertimbangkan gedung grade A sebagai alternatif yang menarik.
Meskipun pasar masih berpihak pada penyewa akibat tingginya tingkat ruang kosong, selisih antara harga sewa yang ditawarkan dan transaksi diperkirakan semakin sempit. Selain masih menawarkan berbagai insentif, fitur green building untuk meningkatkan daya tarik ruang yang ditawarkan semakin menjadi strategi pengembang untuk menawarkan properti yang mereka miliki.
Sektor apartemen ada tambahan sekitar 200 unit apartemen baru di kuartal pertama 2026. Jumlah ini mewakili sekitar 10 persen dari perkiraan tambahan pasok selama 2026. Hal ini memungkinkan adanya potensi pergeseran jadwal sejumlah proyek yang sebelumnya diperkirakan selesai di 2026. Jakarta Selatan terus memperkuat posisinya sebagai koridor paling aktif dengan kontribusi sekitar 60 persen dari total pasok tambahan pada kuartal pertama 2026.
Pasar ritel di Jakarta dan sekitarnya (Bodetabek) terus menantang. Sektor makanan dan minuman (food & beverage), hiburan, aparel olahraga, serta produk kecantikan mencatat kinerja yang relatif baik. Sebaliknya, sektor pakaian menghadapi tekanan yang cukup kuat akibat meningkatnya persaingan dari pelaku UMKM serta perubahan perilaku konsumen, khususnya Generasi Z.
Kelompok ini cenderung lebih memilih berbelanja secara daring dan mengalokasikan pengeluaran secara lebih selektif dengan fokus pada pengalaman dibandingkan pembelian produk bernilai besar. Namun Generasi Z tetap menjadi kontributor utama terhadap tingkat kunjungan ke pusat-pusat perbelanjaan.
Para retailer mulai menyesuaikan strategi ekspansi mereka. Sebagian besar lebih memilih membuka toko dengan ukuran lebih kecil dan efisien, mengambil jangka waktu sewa yang lebih pendek (sekitar 1–2 tahun), serta menutup gerai yang berkinerja buruk guna menjaga prestasi portofolio mereka.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, keunikan dan kualitas produk menjadi faktor yang semakin penting agar tetap kompetitif. Secara keseluruhan, meskipun pasar ritel menghadapi tantangan, sektor-sektor yang mampu beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen, ekosistem digital, serta strategi yang lebih berorientasi pada efisiensi biaya menunjukkan tingkat ketahanan yang relatif lebih baik.
Kinerja hotel secara historis cenderung mengalami pola musiman dengan mencatat tingkat terlemah pada awal tahun, termasuk di Jakarta. Pada tahun 2026, kondisi ini semakin diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan sangat mungkin meningkatkan potensi pembatalan berbagai acara internasional. Situasi ini diperkirakan mengurangi sumber pendapatan, khususnya bagi hotel bintang lima yang lebih bergantung pada permintaan global dan aktivitas MICE.
Sementara itu pasar logistik di Jakarta dan sekitarnya menjadi salah satu sektor properti yang tangguh dengan tingkat hunian mendekati penuh serta permintaan yang berkelanjutan meskipun ketidakpastian global masih berlangsung. Berbeda dengan sektor lahan industri, pasar logistik menunjukkan ketahanan yang lebih kuat, didukung oleh perannya yang krusial dalam menunjang distribusi domestik dan operasional rantai pasok.
“Apabila ketegangan geopolitik terus berlanjut, efek lanjutannya bisa mengakibatkan kenaikan tarif penerbangan dan berpotensi semakin menekan permintaan perjalanan terutama dari wisatawan domestik. Imbasnya, angka kunjungan menurun dan berpotensi terjadi perang harga untuk bisa menarik tamu,” beber Ferry.


