Ada dua pilihan investasi yang populer khususnya untuk kalangan investor pemula. Berbagai pilihan investasi ini tentunya harus disesuaikan dengan selera maupun karakteristik keuangan kita. Dua pilihan investasi yang populer di kalangan investor yaitu reksadana vs emas. Kedua investasi ini cocok untuk investor pemula karena memiliki risiko yang relatif ringan dibanding instrumen lain tetapi karakter dan tujuan keduanya sangat berbeda.
Dikutip dari laman resmi Pegadaian, kedua pilihan investasi ini yang bisa dipilih sesuai tujuan finansial masing-masing. Adapun reksadana merupakan wadah investasi yang menghimpun dana dari banyak investor lalu dikelola oleh manajer investasi ke berbagai aset seperti saham, obligasi, atau deposito. Tujuan utamanya adalah memaksimalkan nilai dana di masa depan.
Sementara itu emas merupakan logam mulia yang berharga dan sudah lama menjadi pilihan investasi karena nilainya cenderung stabil dan tahan terhadap perubahan ekonomi serta inflasi. Saat ini investasi emas juga bisa dilakukan dalam bentuk emas fisik maupun digital.
Beberapa hal yang perlu kita pahami terkait perbedaan investasi emas vs reksadana. Dari sisi modal awal investasi, reksadana dikenal sebagai instrumen yang ramah untuk pemula karena bisa dimulai dengan dana kecil. Saat ini banyak produk reksadana yang dapat dibeli mulai dari sekitar Rp10 ribu saja.
Berbeda dengan emas fisik yang membutuhkan dana lebih besar per gramnya. Meski begitu, keterbatasan modal bukan lagi hambatan karena emas juga bisa dibeli dengan sistem cicilan atau melalui tabungan emas.
Misalnya di Pegadaian, nasabah dapat mulai menabung emas dari pecahan sangat kecil yaitu sekitar 0,01 gram atau setara kurang lebih Rp10 ribuan. Dengan pilihan ini investasi emas tidak lagi harus menunggu punya dana besar di awal.
Dari sisi nilai investasinya, jika melihat perbedaan reksadana vs emas dari sisi pergerakan nilai, emas dikenal relatif stabil dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Namun, kenaikannya biasanya tidak terlalu cepat sehingga kurang ideal untuk target jangka pendek.
Rata-rata imbal hasil emas berkisar 5-20 persen per tahun. Untuk hasil yang benar-benar terasa, investasi emas lebih cocok disimpan dalam jangka panjang bahkan bisa mencapai 10 tahun atau lebih. Sementara reksadana menawarkan peluang pertumbuhan nilai yang lebih tinggi. Besarnya hasil tentu bergantung pada jenis reksadana yang dipilih.
Misalnya, reksadana saham umumnya memberikan potensi return lebih besar dibanding reksadana pasar atau pendapatan tetap. Berdasarkan analisis pasar modal, reksadana cenderung menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding emas. Dalam beberapa periode, keuntungan emas bisa berada di posisi stagnan atau naik sangat lambat.
Sebaliknya, kinerja reksadana relatif lebih dinamis dan berpeluang terus meningkat seiring pertumbuhan pasar keuangan dan kinerja aset yang dikelola. Dari segi kestabilan nilai, emas tergolong lebih aman karena jarang mengalami penurunan drastis. Risiko utama emas biasanya berkaitan dengan penyimpanan, terutama jika berbentuk fisik.
Sedangkan reksadana memiliki risiko yang lebih beragam, seperti penurunan nilai unit penyertaan, risiko likuiditas saat banyak investor mencairkan dana bersamaan, hingga risiko gagal bayar dari pihak penerbit instrumen tertentu. Namun kelebihan reksadana adalah bentuknya non-fisik sehingga tidak ada risiko pemalsuan seperti pada emas batangan.
Jika membandingkan diversifikasi investasi reksadana vs emas, reksadana sangat mendukung strategi diversifikasi. Investor bisa membagi dana ke beberapa jenis reksadana sekaligus seperti pasar uang, pendapatan tetap, dan saham untuk menekan risiko kerugian. Emas juga bisa dijadikan bagian dari diversifikasi tetapi pilihannya lebih terbatas. Umumnya hanya melalui tabungan emas atau kepemilikan emas batangan dalam jumlah tertentu.
Investasi emas fisik menuntut tanggung jawab penuh dari pemiliknya mulai dari menjaga keamanan, memilih tempat penyimpanan, hingga memantau waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Sebaliknya, reksadana cenderung lebih praktis karena pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh manajer investasi profesional. Investor tidak perlu mengatur portofolio sendiri atau memikirkan penyimpanan aset karena seluruh proses sudah ditangani oleh pihak pengelola.
Sekarang tinggal dipilih investasi mana yang sekiranya paling cocok dijalankan, semuanya harus diarahkan pada tujuan dan kebutuhan finansial masing-masing.


