Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut, masih ada puluhan titik genangan dan banjir di sejumlah wilayah. Hal ini tentunya menegaskan kalau banjir masih menjadi permasalahan tahunan Kota Jakarta.
BPBD juga mencatat, ada 125 RT dan 14 ruas jalan utama yang masih terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi mulai 10-150 cm. Sebaran wilayah terdampak di Jakarta Selatan mencapai 55 RT yang mencakup Petogogan, Pela Mampang, Pondok Pinang, Cipulir, Cilandak Timur, Duren Tiga, dan Pondok Labu.
Di Jakarta Barat ada 38 RT dengan titik terdalam di Rawa Buaya yang mencapai ketinggian 150 cm. genangan juga terjadi di Kedaung Kali Angke dan Duri Kosambi dengan ketinggian 80 cm.
Jakarta Timur ada 30 RT yang terdampak meliputi Cipinang Melayu dengan puluhan RT lainnya terendam akibat luapan sungai dan buruknya drainase lingkungan. Jakarta Utara 2 RT tercatat di Kapuk Muara setinggi 40 cm dipengaruhi oleh hujan lokal dan pasang laut.
Adapun sejumlah ruas jalan utama yang mengalami genangan sehingga mengganggu aktivitas lalu lintas antara lain di Jalan Srengseng Raya, Daan Mogot Km. 13, Jalan Perternakan, serta beberapa ruas lain di Jakarta Barat. kondisi ini tentunya berdampak pada mobilitas masyarakat maupun operasional transportasi umum.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) merilis penyebab bajir Jakarta menurut perpektif sains. Dikutip dari laman resminya, dijelaskan kalau fenomena banjir Jakarta tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal karena dari sudut pandang ilmiah terdapat beberapa penyebab utama yang saling berkaitan.
Diantaranya curah hujan ekstrem yang terus meningkatkan kemampuan atmosfer menyimpan uap air. Akibatnya hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, meningkatkan risiko banjir di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta.
Kapasitas sungai yang rerbatas sementara Jakarta dilalui sejumlah sungai besar seperti Ciliwung, Krukut, dan Mampang. Saat debit air dari wilayah hulu meningkat, kapasitas sungai sering kali tidak mampu menampung aliran air sehingga terjadi luapan.
Dominasi beton dan aspal menyebabkan air hujan tidak terserap ke tanah atau tata kota yang minim daya resap. Sebagian besar air langsung menjadi limpasan di permukaan yang membebani sistem drainase.
Hal ini diikuti dengan penurunan muka tanah karena eksploitasi air tanah menyebabkan penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Jakarta. Kondisi ini membuat air sulit mengalir secara gravitasi dan memperpanjang durasi genangan.
Hal lainnya pengaruh pasang laut karena di wilayah pesisir Jakarta Utara, pasang laut menahan aliran sungai ke laut sehingga air tertahan dan menyebabkan banjir bertahan lebih lama kendati hujan telah berhenti.
Untuk solusinya, berbagai permasalahan ini mengharuskan solusi banjir Jakarta juga harus dengan kaca mata sains. Para ilmuwan menilai penanganan banjir Jakarta harus dilakukan secara sistemik dan berkelanjutan. Diantaranya restorasi sungai dan daerah aliran sungai. Restorasi kawasan hulu, pembangunan kolam retensi, serta pemberian ruang bagi sungai untuk meluap secara terkendali akan efektif menurunkan puncak debit air.
Penerapan konsep kota spons dengan pembangunan taman resapan, perkerasan berpori, atap hijau, dan sumur resapan wajib dapat meningkatkan daya serap air hujan hingga 30–40 persen.
Penghentian eksploitasi air tanah harus segera dilakukan karena secara ilmiah, penghentian pengambilan air tanah dalam menjadi langkah mendesak untuk menghentikan penurunan muka tanah yang memperburuk risiko banjir.
Kita juga harus memanfaatkan teknologi prediksi dan kebijakan adaptif. Sistem prediksi hujan resolusi tinggi serta kebijakan adaptif seperti pengaturan jam kerja atau pembelajaran jarak jauh saat hujan ekstrem dapat mengurangi dampak sosial dan ekonomi saat Kota Jakarta banjir seperti hari-hari ini.
Akhirnya bisa disimpulkan kalau banjir Jakarta terkini kembali menegaskan bahwa persoalan banjir bersifat kronis dan multidimensional. Dengan ratusan RT dan sejumlah ruas jalan terdampak, penanganan banjir tidak cukup mengandalkan solusi teknis jangka pendek. Pendekatan berbasis sains, integrasi data lintas sektor, serta kebijakan jangka panjang menjadi kunci untuk mengurangi risiko banjir tahunan di ibu kota.


