Perusahaan emiten properti PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP/Paradise Properti) berhasil mencatatkan kinerja bisnis yang sangat baik. INPP mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 32,9 persen (tahunan/yoy) menjadi Rp1,74 triliun pada tahun 2025.
Menurut Presiden Direktur-CEO Paradise Indonesia Anthony Prabowo Susilo, pertumbuhan kinerja bisnis ini bisa konsisten dipertahankan selama lima tahun berturut-turut. Dampak lainnya dari pertumbuhan ini juga pada pencadangan kas perusahaan hingga optimistis bisa terus menargetkan pertumbuhan secara konservatif.
“Kami bersyukur perusahaan bisa kami bawa terus tumbuh yang didukung dengan debt to equity ratio (DER) rendah dan basis pendapatan berulang (recurring income) yang solid. Kami juga sangat siap mengakselerasi berbagai proyek ikonik baru demi pertumbuhan yang berkesinambungan,” ujarnya.
Bila dirinci, pendapatan INPP kontribusi terbesarnya diraih dari segmen perhotelan dengan porsi 36 persen. Untuk segmen komersial berkontribusi 34 persen sementara dari property sales khususnya penjualan unit apartemen menyumbang 30 persen terhadap total pendapatan perusahaan.
Pendapatan INPP juga ditopang dengan terus berlanjutnya proses serah terima (handover) unit Apartemen Antasari Place, Jakarta Selatan, selain kontribusi dari perluasan 23 Paskal Shopping Center Bandung. Peluncuran Citadines Antasari juga ikut memperkuat pendapatan recurring income perusahaan.
Secara umum, capaian kinerja bisnis yang baik ini terus menunjukkan konsistensi pertumbuhan pendapatan khususnya lima tahun terakhir yang menguatkan kinerja bisnis paerusahaan untuk terus tumbuh di berbagai kondisi perekonomian lokal maupun global.
Kendati laba bersih terdampak dari penyesuaian non-kas, Paradise Indonesia berhasil memperkuat likuiditas dengan melipatgandakan posisi kas untuk mendanai fase pertumbuhan selanjutnya.
Hingga akhir tahun 2025 lalu, kas perusahaan atau setara kas naik mencapai 113,3 persen menjadi Rp771,39 miliar. Peningkatan likuiditas yang cukup masif ini didukung oleh berbagai strategi seperti penerbitan obligasi sebesar Rp500 miliar serta arus kas masuk melalui mitra strategis di beberapa proyek INPP.
Penerapan strategi ini juga mencerminkan fokus perusahaan khususnya dalam mengoptimalkan struktur permodalan yang memperkuat likuiditas sekaligus mengoptimalkan pengelolaan berbagai aset khususnya dengan masuknya mitra strategis.
“Keberhasilan kami dalam menjaga profil leverage yang rendah juga mencerminkan disiplin alokasi modal yang sangat ketat. Fokus kami pada pertumbuhan recurring income yang mencapai 70 persen dari total pendapatan juga memberikan prediktabilitas arus kas yang kuat untuk digunakan kembali pada investasi proyek-proyek masa depan hingga memastikan ekspansi dengan dukungan fundamental operasional yang kuat,” imbuh Anthony.


