Hujan yang berlangsung terus-menerus pada awal tahun 2026 ini terus membuat kawasan Jakarta dan sekitarnya dikepung banjir. Curah hujan yang tinggi di kawasan dan di area hulu langsung berimplikasi pada meningkatnya muka air di beberapa sungai yang melintas Jakarta dan membuatnya banjir.
Untuk menyelesaikan permasalahan banjir di Jakarta memang persoalan sulit dan itu harus kita akui. Hal ini tidak terlepas dari masterplan pengendalian banjir di Jakarta yang dibuat tahun 1973 oleh Belanda. Per hari ini, kalaupun masterplan ini diterapkan tidak akan bisa lagi mendukung dengan kondisi Jakarta pada hari ini.
Pada kajian berikutnya, berdasarkan masterplan itu kapasitasnya harus terus ditingkatkan hingga tiga kali lipat dan dengan kondisi saat ini hal itu menjadi tidak mungkin. Itu karena kondisi Jakarta yang semakin parah di mana fungsi resapan telah banyak yang hilang, pendangkalan sungai tinggi, drainase tidak terpelihara, urbanisasi, hingga perumahan-perumahan yang dibangun dengan tidak memiliki sistem drainase.
Karena itu persoalan banjir khususnya di Jakarta menjadi PR besar untuk kita semua dan kita harus berhenti mengeluj kalau setiap kali Jakarta banjir dan banjir lagi. Selama tidak ada perubahan yang signifikan maka terima sajalah dengan kondisi saat ini dan akui kalau memang kita tidak mampu untuk mengatasi banjir Jakarta.
Hilangnya resapan air di banyak lokasi Jakarta langsung berdampak pada run off atau aliran sungai yang tinggi melintas di kepadatan penduduk maupun aktivitas Jakarta. Dari gubernur ke gubernur yang memimpin Jakarta semuanya memiliki rencana untuk penanganan banjir tapi nyatanya hingga saat ini belum bisa diatasi. Dengan kondisi seperti ini apa yang bisa kita lakukan?
Paling minimal dengan mengurangi wilayah genangan yang cukup banyak, mengurangi tingkat waktu genangan, kemudian mengoptimalkan berbagai kondisi yang bisa mempercepat masalah-masalah kondisi muka air.
Praktiknya, apakah kita mampu menciptakan berbagai upaya untuk meresapkan air semaksimal mungkin, mengoptimalkan pompa-pompa yang sudah ada, atau untuk jangka panjang melakukan pengerukan atau normalisasi sungai untuk mengembalikan kondisi sistem tata kelola air yang sampai hari ini belum bisa dibenahi.
Di sisi lain berbagai tantangan juga sudah menghadang di depan mata. Kondisi-kondisi yang terus berubah baik dari siklus alam, cuaca, hingga pemanasan global yang nyatanya masih gagap kita antisipasi. Harus dicari berbagai hal terbaik untuk setidaknya langkah pendek yang bisa mengatasi masalah banjir yang saat ini kembali terjadi.
Jadi untuk sementara kita harus bisa menerima kondisi ini sebagai bagian dari masalah Jakarta dan berharap bisa memberikan yang terbaik. Banjir ini semakin lama juga akan semakin menyentuh zona-zona yang saat ini tidak banjir dan dengan kondisi yang terus berubah harus ada solusi besar supaya dampaknya juga signifikan.
Oleh: Yayat Supriatna, Pengamat Perkotaan, Dosen Teknik Planologi Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti


