Tentu masih banyak di antara kita yang menyebut investor sebagai mekanisme bisnis yang jelimet hingga membutuhkan modal yang besar. Menjadi investor tentu ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan memang tidak bisa ujug-ujug kita menjadi investor.
Untuk mudahnya bila kita karyawan yang memiliki gaji tetap, sebagai tahap awal harus disiplin menabung. Katakan dengan mengalokasikan 35 persen dari penghasilan untuk ditabung, kemudian setelah terkumpul tabungan itu dibelikan aset.
Beberapa kisah bisa disimak dan dipelajari. Seorang perawat di rumah sakit ingin memiliki bisnis untuk mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji rutinnya. Sebagai perawat, dia mendapatkan hak asrama dan karena tidak perlu keluar uang untuk tempat tinggal maupun biaya transportasi, perawat ini bisa mengalokasikan hingga 50 persen dari gajinya untuk tabungan.
Pada akhirnya dengan tabungan yang telah terkumpul, dia membeli sebidang tanah di kampung halamannya, Garut, Jawa Barat. Beberapa tahun dari sejak membeli tanah itu, ada lagi yang menawarkan tanah, tanah lamanya dijual, dibelikan tanah yang lebih luas, bahkan ada sisa untuk dibelikan logam mulia emas dan dinar.
Dengan gaji yang sudah meningkat, pada titik ini kondisi sang perawat sudah berbeda karena telah memiliki aset dan tabungan selain gaji rutin sebagai perawat. Hitung-hitungan terus dilakukan dan hal lain yang diteruskan untuk mencapai mimpi menjadi investor, aset yang telah dimiliki jangan menjadi beban.
Masih di Garut, dibelilah beberapa kambing betina dan satu jantan. Untuk memelihara kambing ini dibuat mekanisme bagi hasil dengan orang kepercayaan. Dari ternak kambing ini juga terus meningkat karena beranak-pinak. Singkatnya, sang perawat terus berjalan dari investor menjadi business owner.
Bisnis yang dijalankan dari tanah puluhan meter hingga mencapai 1.300 m2, usaha ternak kambing, dan beberapa bisnis lain. Itu dilakukan dari masih berstatus calon ASN di rumah sakit, ASN, hingga tugas sebagai perawat yang dipindah-pindah ke berbagai kota. Bisnis maupun investasi yang dijalankan terus dilakukan sambil bekerja menjadi perawat.
Pesan dari kisah ini, sebagai anak muda apakah milenial atau Gen Z, jangan menganggap investasi itu sesuatu yang besar dan membutuhkan modal besar. Contohnya si perawat yang tetap bekerja namun memiliki concern besar untuk menjadi investor, dan semuanya bisa diraih.
Kisah lain yang juga seorang pekerja formal dengan gaji tetap tapi disiplin menabung. Dari tabungan yang terkumpul dibelikan logam mulia dan saat harganya tinggi dijual kemudian dibelikan tanah. Sekarang beberapa bidang tanah telah dimiliki di setiap kota yang kebetulan dia ditempatkan oleh institusi pekerjaannya.
Memang tanah yang dibeli relatif kecil dan di kota kecil pula, mulai 100 m2 di Banten, 130 m2 yang dekat terminal dan jalan tol, dengan terus dilanjutkan investasi pada logam mulia, hingga mulai belajar bisnis blockchain. Bagusnya dari investasi emas adalah bisa memproteksi nilai kekayaan kita.
Kisah masih berlanjut. Dari emas yang dibelikan tanah terus berkembang hingga menjadi bisnis kos-kosan. Dari aset yang mulai besar itu diambil keputusan untuk dijual dan dibelikan rumah kos. Properti yang dibeli merupakan hunian kos yang sudah berjalan, artinya ada penyewanya dan full sebanyak delapan pintu.
Dari setiap investasi yang telah ditanamkan dan berjalan, langsung dipikirkan untuk investasi berikutnya. Dengan experience dan ilmu tentang investasi yang makin dalam, berinvestasi saham yang lebih complicated mulai dilakoni. Manfaatkan juga penggunaan teknologi maupun marketplace yang sangat beragam untuk mendukung aktivitas kita berinvestasi. Jadi, ayo menabung dan mulai berinvestasi!
Oleh: Chairil Anwar Soleh, Dokter Spesialis Anestesi, pemikir-penulis aktif, konsultan logistik rumah sakit, tokoh masyarakat Betawi


