Sejak beroperasi pada 24 Maret 2019 lalu, MRT Jakarta telah mengantarkan lebih dari 192 juta pelanggan ke berbagai tujuan. MRT merupakan transportasi publik modern dengan 16 km dan 16 rangkaian kereta yang telah berhasil menerapkan standar baru budaya bertransportasi publik. Tujuh tahun melayani pelanggan, angka keterangkutan menunjukkan konsistensi peningkatan setiap tahunnya.
“Pada tahun 2019 atau saat masa awal beroperasi, MRT mencatat 24 juta orang yang menggunakan moda transportasi ini dengan rata-rata pengguna harian mencapai 86 ribu pengguna,” ujar Rendy Primartantyo, Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda).
Angka ini melampaui target awal 65 ribu pelanggan per hari namun jumlah tersebut turun saat pandemi Covid-19. Pada 2020 dan 2021, angka keterangkutan turun hingga 9,9 juta dan 7,1 juta pelanggan dengan rata-rata harian hanya 27 ribu dan 19 ribu pelanggan.
Saat pandemi perlahan pulih begitu pula dengan MRT Jakarta. Pada tahun 2022, angka keterangkutannya meningkat hingga 17 persen yakni 19,7 juta pelanggan. Tahun berikutnya juga meningkat hingga 33,5 juta pelanggan dengan 91 ribu pelanggan per hari, naik mencapai 69 persen. Pada 2024, angka keterangkutan harian menembus 111 ribu per hari dengan total 40,8 juta.
Pada tahun 2025, kepercayaan besar masyarakat terhadap layanan MRT Jakarta selaras dengan kenaikan jumlah pelanggan hingga 46,5 juta dengan rata-rata harian mencapai 127 ribu orang, melampaui target 117 ribu pelanggan per hari.
Peningkatan ini menunjukkan antusiasme masyarakat untuk beralih menjadi pengguna transportasi publik. Maka pada tahun ketujuh operasionalnya, MRT Jakarta menargetkan sebanyak 50 juta pelanggan dengan rata-rata harian 137 ribu pelanggan.
Harus diakui MRT Jakarta telah menjadi katalisator perubahan budaya dan kota yang kehadirannya bukan semata sebagai alat angkut manusia. Lebih jauh lagi MRT telah menjelma sebagai katalis perubahan budaya bermobilitas masyarakat saat di ruang dan transportasi publik.
Keteraturan, ketertiban, serta kedisiplinan menjadi kebiasaan yang membanggakan. Perubahan manusia tersebut seiring dengan kehadiran infrastruktur integrasi dan interkoneksi yang memudahkan akses bagi semua.
Sebagai operator utama pembangunan kawasan berorientasi transit (transit-oriented development), MRT Jakarta terus memastikan impian integrasi dan interkoneksi sistem transportasi publik di Jakarta terlaksana sesuai dengan standar internasional mulai aspek keamanan, kenyamanan, dan keandalan yang lazim diterapkan di negara lain yang memiliki sistem metro.
Standar pelayanan MRT Jakarta tidak akan mampu memenuhi harapan masyarakat apabila interkoneksi dan integrasi dengan bangunan serta transportasi publik lainnya tidak terpenuhi. Maka dihadirkan kampanye #UbahJakarta yang mendapat pengakuan internasional.
Pada 2024 lalu Community of Metros (COMET), sebuah komunitas metro seluruh dunia yang terdiri dari 45 sistem metro dari 41 negara, menginisiasi indeks kepuasan pelanggan dan MRT Jakarta mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan 30 metro yang disurvei. Nilai tertinggi diraih pada asek kenyamanan dan keamanan kereta serta stasiun, keandalan layanan, dan jam operasional yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Bahkan pengakuan internasional tersebut juga datang dalam bentuk menjadi rujukan pelatihan atau studi banding bagi operator metro dari negara sahabat seperti Bangladesh dan Vietnam. Operator Dhaka Metro dan Ho Chi Minch Metro menjadikan MRT Jakarta sebagai tempat pelatihan, belajar, dan persiapan operasionalnya.
“Kami terus menjalankan kampanye #UbahJakarta untuk menjadi kunci perubahan budaya dan kota di Indonesia. Kami akan terus melaju untuk menyatukan masa depan kota dan tidak berhenti mengajak masyarakat agar sama-sama membangun Jakarta dan Indonesia demi keberlanjutan masa depan bangsa,” imbuh Rendy.


