Periode tahun 2025 lalu menunjukkan kondisi pasar properti segmen apartemen yang masih cukup dinamis. Total pasokann unit apartemen kumulatif di wilayah Jakarta dan sekitarnya mencapai 400.187 unit yang artinya naik tipis 0,1 persen secara kuartalan atau 1,5 persen secara tahunan.
Suplai unit baru apartemen berasal dari penyelesaian satu proyek untuk segmen atas yaitu Savyavasa Tower 2 dan 3 untuk periode kuartal terakhir 2025. Adapun unit baru yang selesai dibangun pada kuartal keempat 2025 menurun signifikan mencapai 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Total ada penambahan mencapai 5.901 unit dengan penyelesaian proyek baru yang sebagian besar terkonsentrasi di Jakarta Selatan dan Tangerang. Proyek segmen menengah menyumbang paling besar untuk pasok baru tahun 2025 lalu,” jelas Arief Rahardjo, Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia.
Sepanjang tahun 2025 lalu tidak ada peluncuran proyek baru apartemen yang menunjukkan perlambatan aktivitas pembangunan atau dengan kata lain kalangan pengembang masih lebih fokus pada penjualan inventaris (unit stok) yang ada.
Total penyerapan unit apartemen juga melambat dengan total penyerapan yang menurun sebesar 45 persen (tahunan/yoy). Terlepas dari perlambatan ini, pasar apartemen di Jakarta dan sekitarnya tetap relatif stabil.
Hal itu tercermin dari tingkat penjualan kumulatif sebesar 94,4 persen atau naik 0,2 persen (yoy) dengan tingkat pra-penjualan sebesar 59,5 persen yang juga naik dengan persentase sama. Situasi ini juga masih menunjukkan minat konsumen yang selektif (wait and see) namun mulai terlihat meningkat di tengah kondisi pasar yang masih berhati-hati.
Seluruh aktivitas transaksi jual-beli unit apartemen masih terkonsentrasi di Tangerang dengan segmen menengah dan menengah bawah yang terbesar. Keterjangkauan nyatanya masih menjadi isu terbesar untuk mendorong penyerapan segmen ini. Untuk tingkat hunian naik 2,6 persen yang menandakan ada pergeseran bertahap dari pembelian dari kalangan investor menuju end user (pengguna).
Dari sisi harga juga menunjukkan sedikit peningkatan sebesar 2,2 persen (yoy) menjadi Rp51,7 juta/m2 dengan area CBD memimpin kenaikan tahunan sebesar 2,9 persen menjadi Rp63,4 juta/m2, area prime Rp54,9 juta/m2 (naik 2,2 persen), dan area sekunder Rp36,7 juta/m2 (naik 0,5 persen).
“Kami memperkirakan harga unit apartemen akan tumbuh secara bertahap di tengah terbatasnya pasokan unit baru. Namun pergerakan harga ke atas kemungkinan akan tetap terkendali karena pengembang terus bersaing dengan pemilik unit di pasar sekunder,” imbuh Arief.


